Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Januari 2021

Open Minded

Aku ga mengklaim kalo aku itu orang yg open minded, karena takutnya ternyata aku enggak.
Tapi kalau ada masalah, aku berusaha untuk melihat dari semua pihak, ga langsung ngejudge mana yg salah mana yg bener. Terkadang malah menurutku tidak ada yg salah dan benar, keduanya memiliki alasan tersendiri, memiliki latar belakang masing2, yang membentuk mereka seperti sekarang ini. Terkadang aku memahami mengapa mereka begitu. Ada orang yg bilang dia salah ada orang yg bilang dia benar, tapi menurutku semua itu bukan semata salah dan benar. Mungkin perilakunya salah, tapi aku mencoba memahami kenapa dia melakukan itu.
Pandanganku ini membuatku jadi kurang tegas. Aku tidak punya statement yang kuat dimana aku berdiri, siapa yang kubela, aku lebih sering berada di tengah dengan kecenderungan ke arah yang menurutku lebih butuh dimaklumi.
Terlebih, apabila aku pernah mengalami sendiri masalah tersebut, aku akan lebih menaruh simpati dan pengertian terhadap pihak tersebut. Tapi aku juga tidak membela mati2an karena pihak lain pun memiliki alasannya sendiri.
Huf. Terkadang aku lelah berusaha memaklumi orang lain, tapi orang disekitarku cenderung keras terhadapku. Aku ingin mereka melihat apa yang kulihat tetapi aku tidak bisa mengutarakan maksudku dengan jelas. Semua hanya ada di pikiran tanpa bisa kucurahkan dengan terang.

Sabtu, 21 April 2018

When U love someone

When u love someone, everything make no sense.
When u love someone, he is the only thing that is right for you.
When u love someone, everything not him is wrong.
When u love someone, you can’t open your heart for anyone.
When u love someone, you know he is not the right one, but you already in love with him.
When u love someone, you try to find somebody else.
When u love someone, you can’t find somebody better than him.
When u love someone, but you know he is wrong, u force yourself to stop loving him.
When u love someone, u get hurt.
When u love someone, u hate yourself for being in love.

Sabtu, 14 April 2018

Buka Pikiran


Oke, jadi di tulisan kali ini saya akan menggunakan bahasa Indonesia yang sedikit formal, tapi tidak terlalu formal dan mungkin masih berbelit-belit karena saya hanya penulis amatir.

Saya ingin membahas politik.
Apaa?? *kaget*
Sebelumnya, saya sangat tidak tertarik pada politik. Bahkan pernah saat masih kecil, mungkin saat SD menjelang SMP, saya bertekad tidak akan menyentuh politik. Karena menurut pemikiran saya yang sederhana, politik itu ribet, saya ga akan kuat. Selain itu, saya berpikir politik itu kotor, orang baik tidak akan bisa bertahan di dalam politik, entah dia berubah menjadi jahat, atau dia ditindas dan keluar dari politik karena gak kuat. Entahlah, itu pemikiran saya saat masih kecil. Mungkin terlalu banyak nonton sinetron daripada nonton berita. Tapi memang dulu saya selalu ganti channel kalau udah nanyangin berita. Karena gak ngerti, dan gak mau ngerti, dan bertekad gak akan mau ngerti. Se-anti itu dengan politik.
Sampai saya jadi mahasiswa, saya masih anti dan masa bodoh dengan politik. Saat ada yang membicarakan politik, saya menghindar dan menjauh. Bahkan saat waktunya nyoblos, saya ikutin papa aja tanpa banyak tanya atau nyari tau alasan kenapa harus pilih itu, yang penting gak golput. 
Suatu saat, papa saya nanya “kamu tahu masalah xxxxxxxx tentang xxxxxxxx?”, dan saya menjawab “gak tau, siapa itu”. Papa pun menasihati (mengomeli) panjang lebar, “kamu itu mahasiswa harusnya tau, jaman dulu mahasiswa yang paling kritis sama pemerintah. Sampai demo, mahasiswa semua. Sekarang ya kayak kamu gini, udah dipengaruhi sama hiburan tv yang gak bermutu, musik boyband-boyband, korea, internet, gak peduli sama masalah-masalah politik. Sekarang malah emak-emak yang demo.” Yah papa gak tau aja emang anaknya yang sudah bertekad apatis dari lahir (tolong jangan ditiru, saya juga lagi belajar). Masih berlanjut nih, “apalagi kamu psikolog, harusnya wawasannya luas, tentang apa aja. Sering-sering baca berita, apa yang sedang terjadi saat ini. Kalo buka hp itu yang bermanfaat, jangan sosmed aja tapi buka juga berita, info-info. Jadi sekarang ini..........*dst*”
Saat pertama kali papa bilang gitu saya cuma anggap angin lalu, masih tidak tertarik. Meskipun ada sedikit rasa malu. Malu sebagai mahasiswa, gak tau masalah apa yang sedang terjadi sekarang ini. Taunya masalah artis, penyanyi, pemain film. Haduhh. 
Saya pun berpikir, mungkin dulu saya masih kecil saat membuat tekad itu, saya belum mengerti kalau suatu saat saya akan beranjak dewasa. Dan memiliki wawasan luas itu adalah sebuah keharusan dalam dunia orang dewasa (aduhh bahasanya). Kita tidak bisa memilih-milih apa yang mau kita ketahui dan apa yang tidak mau kita ketahui. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, mungkin suatu saat ada orang yang bertanya dan mengajak diskusi, atau kita melamar ke suatu perusahaan yang mengharuskan memiliki pengetahuan sosial, isu-isu negara, dsb.
Setelah nasihat yang pertama itu, ada beberapa kesempatan lagi papa membuka diskusi tentang sesuatu, yang pastinya saya tidak mengerti lagi apa yang dibicarakan papa, diceramahin lagi, kurang lebih hampir sama seperti yang pertama. Sejak itu mulailah saya sedikit ingin tahu biar gak malu-maluin banget, karena sudah mulai merasa malu. Selain itu juga agak kepo (pengen tahu), karena dari cerita papa, sepertinya masalah ini mulai menggelitik rasa penasaran saya. Terbukalah sedikit keingintahuan saya pada dunia politik ini. Meskipun hanya dari sudut pandang awam, bukan mau jadi menteri.
Tapi sejauh ini, usaha yang saya lakukan hanyalah buka berita di line tudey (Ha ha, maafkan saya teman-teman). Karena saya masih malas dan belum terketuk hatinya untuk membuka berita yang lebih berat. Tapi, seperti ada yang aneh yang saya rasakan saat membaca line tudey. Seperti ada kejomplangan, atau berat sebelah dalam berita yang mengekspose dan mengindahkan hanya satu pihak. Saya rasa itu agak tidak adil karena masyarakat awam seperti saya yang malas mencari dan hanya membuka satu sumber berita bisa saja jadi memihak, bukan karena kita paham, tapi karena kita terbiasa dengan apa yang kita baca sehari-hari. Sekali lagi, saya sangat awam dan belum bisa untuk beropini mengenai politik. Tapi saya menyadari disini media sangat berperan dalam menampilkan politik. Jadi apa yang kita lihat belum tentu itu yang terjadi sebenarnya. Percayalah, saya penikmat film dan drama, jadi dalam hal ini saya tidak terlalu awam. Bahwa seringkali ada kesalahpahaman jika sudah berhubungan dengan media. Semua itu tergantung dari dokumentasi dan penyiarannya.
Semakin lah saya berpikir bahwa politik itu tambah ribet, bermain juga dengan media, entah salah entah benar.
Sekarang merasa ingin mencari tahu lebih lagi. Dari pengetahuan saya yang sangat sedikit ini, ada yang sangat ingin saya cari tahu kebenarannya, yaitu adanya masalah yg lebih besar daripada sekedar politik dalam negeri. Sekali lagi, saya masih awam dan tidak tahu sama sekali permasalahan dalam negeri maupun luar negeri. Tapi jika memang benar, apa yg terjadi sekarang ini, akan merusak kebudayaan dan kependudukan di Indonesia kedepannya. Jika memang benar, pastinya saya ingin melakukan sesuatu, dan kalian yang membaca dan belum memahami tapi ingin memahami tentunya juga tidak bisa diam. Meskipun sekarang saya masih tidak tahu apa-apa dan tidak tahu apa yang bisa saya lakukan. Mungkin setidaknya ada satu yang bisa saya lakukan dalam waktu dekat: memilih pemimpin yang benar.

Wallahualam, Allah Maha Tahu, Allah Maha Benar. Semoga saya dan kita semua terbuka keingintahuannya, dan wawasannya. Aamiin.

Kamis, 25 Februari 2016

Unconditional Love

Can you call it love when there's term and condition?
You said "I could just love you if......" 
IF.......(?) 
seriously? Do you realize what did you just say?
Lo mending ke laut pacaran sama ikan kalo 'sayang' nya pake 'kalo'.

Well, we're all grown ups and we do 'love' with logic now. So I can't blame you if you made some 'if' word to your partner.
And that's why I don't like being adult. There's so much logic, reason, consideration, demand needed. I'm myself, forget how to think like I used to, but I remember life was so much simpler one-time ago, when I was younger.

Padahal, kita bisa aja biarin semuanya mengalir, apa yang terjadi, ya terjadilah, tanpa ada banyak tuntutan semua harus sesuai logika kita yang terbatas. 
Maksudnya bukan berarti pasrah juga dari awal ya, tapi kalau udah dikasi, ya terima aja, gausah banyak protes dan koreksi. Meskipun kamu bilang kamu 'mengkritik' dengan alasan biar lebih baik, tapi kalau menurutku sih kamu gaakan bisa ngerubah orang dengan kritikan-kritikan kasarmu itu. Tetap aja, namanya kritik pasti bikin sakit hati you know? FYI, it change nothing. Dan itu berlaku juga buat perilaku kamu yang nunjukkin ga suka sama sifat pasanganmu. It breaking their heart, you don't know how much effort they did to make you happy. But you break their heart that easily.
Mungkin kata-kata bisa merubah orang untuk sementara, tapi perbuatan bisa merubah orang untuk selamanya. 

Daripada kamu bilang "coba kamu lebih hati-hati/teliti/cerdas/mikir/*dan tuntutan-tuntutan lainnya*". 
Tunjukin aja kalau kamu ikhlas, kamu suka, kamu senang, tanpa ada SYARAT (<- ugh I hateeeee that word and its meaning).
Dumb? You think its dumb, and stupid? So we have different perspective, because I called its Love.
If you think that kind of love is stupid and make no sense, it means you're selfish af *as fuck* egois banget.
Why are you so selfish? You blame other people because they can't treat you well. If you love them you won't yelling at them, telling that they're wrong. NO. you won't tell them wrong. You can't change them, change yourself to be more respect to other people!

Kalo emang ga suka sama sifatnya, dari awal ga usah sok manis. You stupid pemberi harapan palsu. You should love person with all their curves and all their edges, all their perfect imperfections (well said Mr. John Legend!) and if you don't love them like that, you really should go from their life and love(fck) yourself. (well said Justin, you refine word fuck to love, great)

Where can I found unconditional love apart from Allah the Most Gracious, Most Merciful...?