Tampilkan postingan dengan label Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opinion. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2019

My Opinion about today's situation

Pemimpin tanpa cela, pemimpin yang tidak pernah berbuat salah, pemimpin yang dipuja dan dipuji oleh pendukungnya, pemimpin yang jika dikritik, pengkritiknya ditangkap. Demokrasi di Indonesia sudah mati.

Saya tidak ahli dalam politik maupun sejarah, jika ditanya tentang data, apa buktinya dari hal yang saya katakan, saya tidak menyimpan berita2 atau kutipan2 mengenai itu. Yang saya tulis disini murni opini, berdasarkan hal-hal yang saya lihat dan dengar selama ini. Bukannya saya buat dan karang sendiri, tapi hal yang saya tangkap melalui keterbatasan indera saya semata.

Hal yang paling membuat saya sakit hati adalah banyak terjadi kriminalisasi Ulama. Sebagai seorang muslim saya tidak rela Ulama diinjak-injak dan diremehkan, bahkan ditangkap karena dituduh menyebar kebencian dan semacamnya. Memang Ulama bukan Nabi, Ulama bukan manusia yang luar biasa sempurna. Ulama hanya manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Tetapi saya diajarkan bahwa setelah Nabi terakhir yaitu Muhammad SAW, pengajaran islam dilanjutkan oleh Sahabat, mereka berjumpa dgn generasi selanjutnya yang tidak berjumpa Rasul semasa hidup, setelah para Sahabat Rasul wafat, ada yang disebut Tabi'in (orang-orang yang berjumpa dengan sahabat dalam keadaan Muslim, serta wafat juga dalam keadaan Muslim), sampai pada masa sekarang Ulama lah yang melanjutkan pengajaran islam. Oleh karena itu Ulama seharusnya dihormati, apa yang mereka katakan tidak mungkin sebuah kebohongan, dan tidak mungkin untuk mencelakakan umat muslim. Jika memang Ulama mengkritik pemimpin/pemerintah. Seharusnya pemimpin tersebut introspeksi diri dan memperbaiki kesalahannya. Tetapi yang terjadi, Ulama-Ulama ditangkap bahkan dijelek-jelekkan oleh rakyat. Miris, sakit, apalagi jika umat muslim sendiri yang mencemooh Ulama tersebut. Orang-orang mencemooh Ulama demi mendukung pemimpin yang dzalim! Naudzubillahmindzalik.

Pada zaman sekarang, semua berita dan opini dengan mudah dapat dibentuk bahkan diputar balikkan oleh media. Siapa yang tidak setuju? Siapa yang percaya sama media 100%? Syirik woy! Percaya hanya kepada Allah SWT. Saya heran seheran-herannya, kenapa pemimpin yang sekarang selalu diberitakan kebaikan-kebaikannya. Katanya itu real, bukan pencitraan. Katanya begitulah pemimpin seharusnya, blusukan, merakyat, tidak hanya duduk di istana tapi menyapa rakyat langsung dan menyelesaikan masalah di lapangan. Kerja, kerja, kerja! Wow, sungguh mencengagkan. Bahkan Ulama kalah sempurnanya sama dia. Berdasarkan pengalaman pribadi saya, belum pernah saya melihat berita dari media besar yang menayangkan kritikan pada pemimpin tersebut. Yang ada hanya berita bagus, baik dari sisi pekerjaan sampai kehidupan pribadinya, bahkan sampai cucunya sendiri mengatakan beliau adalah artis bukannya presiden.
Tapi yang saya lihat, pendukungnya fine-fine saja dengan itu, pendukung garis keras, sudah seperti fans k-pop yang mendukung idolanya. Pokoknya kalau ada yg mengkritik pemimpin tersebut mereka hoax, mereka menebar kebencian. Demi Allah, sejak kapan negara demokrasi tidak boleh mengkritik? Bahkan bukan hanya pendukungnya yang bercuit melalui medsos. Tapi pihak berwajib juga turut menangkap satu persatu orang yang mengkritik pemerintah.

Saya bilang saya bukan ahli sejarah, saya tidak tahu bagaimana keadaan di zaman Suharto, tapi saya cuma dengar-dengar katanya saat itu keadaannya otoriter, siapa yang melawan pemerintah ditangkap. Lalu...... Bagaimana dengan sekarang? Saya sangat heran banget sekali kenapa tidak ada yang mengatakan pemerintahan sekarang juga otoriter. Saya menonton debat capres waktu itu. Beliau mengatakan, kalau ada yang salah, laporkan. Saya bingung sih, karena tidak ada di lingkungan pemerintahan. Jadi saya tidak tahu sebenarnya memang tidak ada yang melaporkan jika pihak beliau yang salah, apa sebenarnya sudah dilaporkan tapi tidak pernah ditindak, atau sudah ditindak tapi hanya tidak diberitakan? Tapi yang saya tahu, jika ada pihak oposisi menyerukan pendapatnya yang menjelekkan beliau, langsung ditangkap dan diberitakan dimana-mana. Saya bingung, heran, seperti ada yang salah. Tapi lingkungan saya adem-adem aja. Di timeline sosmed saya masih banyak yang membela beliau. Meskipun ada satu dua yang dengan berani menyuarakan pendapatnya sebagai oposisi.

Posisi saya yaitu mendukung oposisi, tetapi saya takut menyuarakan pendapat. Saya takut berbeda dengan yang lainnya. Terutama karena saya sangat awam. Tidak ahli dalam bidang ini, tidak luas wawasan tentang sejarah Indonesia. Tapi hari ini saya hanya mau menyatakan kebingungan dan keheranan saya. Jujur, trigger saya menulis ini yaitu saya membayangkan jika saya menjadi dr. Ani Hasibuan, saya pasti akan menangis semalaman. Meratapi apa yang telah saya perbuat, kenapa saya dipanggil ke kantor polisi? Kenapa saya seakan melakukan kesalahan? Yang saya lakukan hanya mencari kebenaran. Itupun sesuai dengan bidang beliau yaitu kedokteran, menurut saya beliau memang pantas menyuarakan pendapat dan hasil temuannya dalam bidang itu. Saya saangaaaatt heran, kenapa bahkan seorang dokter yang mengemukakan pendapat mengenai keahliannya juga diproses hukum. Bahkan sangat cepat, baru minggu lalu saya nonton videonya trending di youtube, hari ini beredar surat dari polisi untuk meminta beliau menjadi saksi terkait menyebar berita kebencian blablabla...
Tapi saya yakin, meskipun ini menakutkan (bagi saya), beliau pasti bisa tegar menghadapi ini, beliau pasti mendapat banyak dukungan dan doa dari rakyat Indonesia yang peduli. Dan doa orang yang terdzalimi pasti diijabah oleh Allah SWT. Jika tidak sekarang, nanti pasti ada saatnya. Semangat dr. Ani Hasibuan! Semangat bangkit Indonesiaku! Bangkit dari rezim yang terlihat adem ayem tapi banyak kejanggalan dan membuat saya yang orang awam banyak kebingungan..

Terimakasih buat yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca opini saya. Jika kurang berkenan atau pilihan kita tidak sama, bisa mute atau unfollow saya saja. Saya tidak suka perpecahan, perkelahian, dan hal-hal buruk lainnya. Jadi saya sarankan untuk unfoll dan diam-diam saja daripada saling berbalas hinaan :)

Sabtu, 14 April 2018

Buka Pikiran


Oke, jadi di tulisan kali ini saya akan menggunakan bahasa Indonesia yang sedikit formal, tapi tidak terlalu formal dan mungkin masih berbelit-belit karena saya hanya penulis amatir.

Saya ingin membahas politik.
Apaa?? *kaget*
Sebelumnya, saya sangat tidak tertarik pada politik. Bahkan pernah saat masih kecil, mungkin saat SD menjelang SMP, saya bertekad tidak akan menyentuh politik. Karena menurut pemikiran saya yang sederhana, politik itu ribet, saya ga akan kuat. Selain itu, saya berpikir politik itu kotor, orang baik tidak akan bisa bertahan di dalam politik, entah dia berubah menjadi jahat, atau dia ditindas dan keluar dari politik karena gak kuat. Entahlah, itu pemikiran saya saat masih kecil. Mungkin terlalu banyak nonton sinetron daripada nonton berita. Tapi memang dulu saya selalu ganti channel kalau udah nanyangin berita. Karena gak ngerti, dan gak mau ngerti, dan bertekad gak akan mau ngerti. Se-anti itu dengan politik.
Sampai saya jadi mahasiswa, saya masih anti dan masa bodoh dengan politik. Saat ada yang membicarakan politik, saya menghindar dan menjauh. Bahkan saat waktunya nyoblos, saya ikutin papa aja tanpa banyak tanya atau nyari tau alasan kenapa harus pilih itu, yang penting gak golput. 
Suatu saat, papa saya nanya “kamu tahu masalah xxxxxxxx tentang xxxxxxxx?”, dan saya menjawab “gak tau, siapa itu”. Papa pun menasihati (mengomeli) panjang lebar, “kamu itu mahasiswa harusnya tau, jaman dulu mahasiswa yang paling kritis sama pemerintah. Sampai demo, mahasiswa semua. Sekarang ya kayak kamu gini, udah dipengaruhi sama hiburan tv yang gak bermutu, musik boyband-boyband, korea, internet, gak peduli sama masalah-masalah politik. Sekarang malah emak-emak yang demo.” Yah papa gak tau aja emang anaknya yang sudah bertekad apatis dari lahir (tolong jangan ditiru, saya juga lagi belajar). Masih berlanjut nih, “apalagi kamu psikolog, harusnya wawasannya luas, tentang apa aja. Sering-sering baca berita, apa yang sedang terjadi saat ini. Kalo buka hp itu yang bermanfaat, jangan sosmed aja tapi buka juga berita, info-info. Jadi sekarang ini..........*dst*”
Saat pertama kali papa bilang gitu saya cuma anggap angin lalu, masih tidak tertarik. Meskipun ada sedikit rasa malu. Malu sebagai mahasiswa, gak tau masalah apa yang sedang terjadi sekarang ini. Taunya masalah artis, penyanyi, pemain film. Haduhh. 
Saya pun berpikir, mungkin dulu saya masih kecil saat membuat tekad itu, saya belum mengerti kalau suatu saat saya akan beranjak dewasa. Dan memiliki wawasan luas itu adalah sebuah keharusan dalam dunia orang dewasa (aduhh bahasanya). Kita tidak bisa memilih-milih apa yang mau kita ketahui dan apa yang tidak mau kita ketahui. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, mungkin suatu saat ada orang yang bertanya dan mengajak diskusi, atau kita melamar ke suatu perusahaan yang mengharuskan memiliki pengetahuan sosial, isu-isu negara, dsb.
Setelah nasihat yang pertama itu, ada beberapa kesempatan lagi papa membuka diskusi tentang sesuatu, yang pastinya saya tidak mengerti lagi apa yang dibicarakan papa, diceramahin lagi, kurang lebih hampir sama seperti yang pertama. Sejak itu mulailah saya sedikit ingin tahu biar gak malu-maluin banget, karena sudah mulai merasa malu. Selain itu juga agak kepo (pengen tahu), karena dari cerita papa, sepertinya masalah ini mulai menggelitik rasa penasaran saya. Terbukalah sedikit keingintahuan saya pada dunia politik ini. Meskipun hanya dari sudut pandang awam, bukan mau jadi menteri.
Tapi sejauh ini, usaha yang saya lakukan hanyalah buka berita di line tudey (Ha ha, maafkan saya teman-teman). Karena saya masih malas dan belum terketuk hatinya untuk membuka berita yang lebih berat. Tapi, seperti ada yang aneh yang saya rasakan saat membaca line tudey. Seperti ada kejomplangan, atau berat sebelah dalam berita yang mengekspose dan mengindahkan hanya satu pihak. Saya rasa itu agak tidak adil karena masyarakat awam seperti saya yang malas mencari dan hanya membuka satu sumber berita bisa saja jadi memihak, bukan karena kita paham, tapi karena kita terbiasa dengan apa yang kita baca sehari-hari. Sekali lagi, saya sangat awam dan belum bisa untuk beropini mengenai politik. Tapi saya menyadari disini media sangat berperan dalam menampilkan politik. Jadi apa yang kita lihat belum tentu itu yang terjadi sebenarnya. Percayalah, saya penikmat film dan drama, jadi dalam hal ini saya tidak terlalu awam. Bahwa seringkali ada kesalahpahaman jika sudah berhubungan dengan media. Semua itu tergantung dari dokumentasi dan penyiarannya.
Semakin lah saya berpikir bahwa politik itu tambah ribet, bermain juga dengan media, entah salah entah benar.
Sekarang merasa ingin mencari tahu lebih lagi. Dari pengetahuan saya yang sangat sedikit ini, ada yang sangat ingin saya cari tahu kebenarannya, yaitu adanya masalah yg lebih besar daripada sekedar politik dalam negeri. Sekali lagi, saya masih awam dan tidak tahu sama sekali permasalahan dalam negeri maupun luar negeri. Tapi jika memang benar, apa yg terjadi sekarang ini, akan merusak kebudayaan dan kependudukan di Indonesia kedepannya. Jika memang benar, pastinya saya ingin melakukan sesuatu, dan kalian yang membaca dan belum memahami tapi ingin memahami tentunya juga tidak bisa diam. Meskipun sekarang saya masih tidak tahu apa-apa dan tidak tahu apa yang bisa saya lakukan. Mungkin setidaknya ada satu yang bisa saya lakukan dalam waktu dekat: memilih pemimpin yang benar.

Wallahualam, Allah Maha Tahu, Allah Maha Benar. Semoga saya dan kita semua terbuka keingintahuannya, dan wawasannya. Aamiin.